TAHUN BARU 1 MUHARROM 1448 H / 2026 H SEBAGAI MOMENTUM MUHASABAH

Oleh

admin

Tahun Baru 1 Muharrom 1448 H bukan sekadar pergantian kalender atau rutinitas tahunan. Ini adalah momen refleksi spiritual dan sosial. Tahun baru sejatinya bukan penambahan umur, tetapi pengurangan jatah hidup. Oleh karena itu, orang yang cerdas akan menjadikan momentum ini sebagai Muhasabah. Hidup hanya sekali, maka harus berarti. Hidup di Dunia ini hanya sebentar, maka harus meninggalkan warisan kebaikan untuk dunia dan akhirat.

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Melihat kondisi bangsa dan dunia saat ini tengah dirundung berbagai krisis: moralitas yang merosot, ekonomi yang terpuruk, pendidikan yang lemah, serta akhlak dan nilai agama yang semakin terkikis akibat pengaruh teknologi yang tidak terbendung.

Lebih mengkhawatirkan lagi, hilangnya cita-cita dari kehidupan sebagian besar umat. Banyak orang hidup tanpa arah, sibuk dengan scrolling Android tanpa visi. Seakan-akan menjadi mayat hidup yang menunggu dikubur, hidup tanpa makna.

Tahun baru Hijrah adalah transformasi. Ia bukan sekadar perpindahan waktu tidak hanya berjalan, tetapi juga menguji kesetiaan kita kepada Allah. Gunakan waktu ini untuk menjadi mukmin sejati: yang memiliki cita-cita besar, semangat juang tinggi, dan amal nyata yang terus meningkat.han fisik, tapi perubahan spiritual dan intelektual. Dari lemah menjadi kuat. Dari gelap menuju cahaya.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 34:

 وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ، فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

Ayat ini menjadi landasan utama dalam melakukan evaluasi diri pada setiap pergantian waktu, termasuk ketika memasuki Tahun Baru Hijriyah. Frasa “wal tanzhur nafsun mā qaddamat lighad” mengandung pesan agar setiap manusia meninjau kembali amal, karya, dan kontribusinya untuk masa depan dunia maupun akhirat. Muhasabah bukan hanya menghitung kesalahan, tetapi juga merencanakan perbaikan dan peningkatan kualitas hidup.

Dalam tradisi Islam, muhasabah merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Sayyidina Umar bin Khattab RA. memberikan nasihat yang terkenal: “Hāsibū anfusakum qabla an tuḥāsabū, wazinū a‘mālakum qabla an tūzana ‘alaikum.

Artinya: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum amal itu ditimbang atas kalian.”

”Gunakan waktu dengan iman dan amal. Karena siapa pun yang tak punya cita-cita, sejatinya telah mati sebelum ajalnya. Ungkapan ini menjadi pedoman bagi setiap muslim agar senantiasa melakukan evaluasi diri secara jujur dan berkelanjutan. Tahun baru Hijriyah hendaknya menjadi titik awal untuk memperbaiki kualitas iman, akhlak, keluarga, pekerjaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Selain muhasabah, Islam juga mengajarkan semangat kerja yang tinggi. Seorang muslim tidak cukup hanya beribadah secara ritual, tetapi juga harus produktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Innallāha yuḥibbu idzā ‘amila aḥadukum ‘amalan an yutqinah.

Artinya: “Sesungguhnya Gusti  Allah Ta’ala mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sungguh-sungguh dan profesional.” (HR. Al-Baihaqi)

Bulan Suro tidak boleh berhenti pada simbol dan ritual semata. Yang lebih penting adalah menjadikannya momentum perubahan nyata dalam kehidupan. Muharram mengajarkan bahwa setiap perjalanan besar selalu dimulai dengan keberanian berhijrah dari keburukan menuju kebaikan, dari kemalasan menuju kerja keras, dari kelalaian menuju kesadaran spiritual.

Memasuki Tahun Baru Hijriyah 1448 H, umat Islam perlu meneguhkan tiga komitmen utama. Pertama, memperkuat hubungan dengan Gusti Allah Ta’ala  melalui peningkatan ibadah, dzikir, tilawah Al-Qur’an, dan amal saleh. Kedua, memperbanyak muhasabah“. Mari kita berhijrah, meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah menuju apa yang diridhai-Nya. Kita mulai dengan menghilangkan kebiasaan buruk dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat, seperti malas beribadah, korupsi, perpecahan, serta sikap saling mencela sesama muslim,” ujarnya. serta evaluasi diri agar kesalahan masa lalu menjadi pelajaran berharga menuju perbaikan. Ketiga, meningkatkan etos kerja, disiplin, profesionalisme, dan produktivitas sebagai bentuk pengabdian kepada Gusti Allah Ta’ala dan kontribusi bagi kemajuan bangsa.

Asy’ari, S.PdI, MH (PaiF Kec. Simokerto)

Share:

Tinggalkan komentar