URGENSI SABAR DALAM KEHIDUPAN

Oleh

admin


Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

(Terj. QS. Ali Imran: 200)

Sabar bukan perkara yang mudah untuk dilakukan. Akan tetapi, Allah akan memberikan ganjaran yang setimpal bagi orang-orang yang sabar. Sebab, Allah sangat mencintai orang-orang yang sabar.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib seperti dalam kitab as-Shabru wa Tsawâb alaihi, Syekh Ibnu Abid Dunya, Rasulullah SAW bersabda : Shabar ada tiga macam, yaitu : shabar dalam ketaatan,shabar dalam menghadapi musibah,shabar dalam menangkal kemaksiyatan.
Shabar dalam ketaatan

Yang dimaksud shabar dalam jenis ini adalah tetap menjalankan semua perintah dan larangan yang ada dalam ajaran Islam walaupun dirasakan amat berat.
Memang, semua perintah dalam Islam itu mudah dilaksanakan, tetapi tidak berarti tanpa resiko. Semua bentuk kesetiaan menuntut pengorbanan. Demikian halnya kesetiaan atau ketaatan kepada ajaran Islam menuntut pula pengorbanan. Di sinilah pentingnya kesabaran.
Untuk menegakkan shalat misalnya, tidak mudah bagi yang tidak bermental shabar. Jenis ibadah ini perlu rutinitas dan kontinuitas, padahal perbuatan seperti ini sering membosankan. Apalagi bagi yang tidak khusyu. Sehingga shalatnya tidak menghasilkan apa-apa, kecuali gerak, malah an fisik saja.
Ibadah puasa demikian halnya. Apalagi ibadah ini tidak langsung dirasakan hasilnya, malah lapar dan haus saja yang terasa. Kalau tidak sabar, maka akan sulit untuk melaksanakannya.
Belum lagi zakat, dan haji. Keduanya menuntut kita untuk mengeluarkan harta kekayaan. Sementara kita tahu bahwa kecintaan manusia terhadap harta luar biasa tingginya. Jika tidak sabar, maka kedua jenis ibadah ini tidak akan pernah kita laksanakan.
Begitu juga perjuangan. Perjuangan menegakkan agama Islam dalam kehidupan kita juga banyak halangan dan rintangannya. Menegakkan Islam di lingkungan keluarga saja banyak hambatannya, apalagi menegakkan Islam di lingkungan masyarakat, tentu lebih sulit. Di sinilah dibutuhkan kesabaran.
Para Rasul adalah contohnya. Tidak ada Rasul yang tidak menemukan hambatan dalam perjuangannya menegakkan kalimat Ilahi ini. Tetapi, karena dia shabar, sukses besar yang mereka dapatkan.
Ketika Rasulullah SAW hendak hijrah ke Thaif. Setelah mendapat tekanan yang hebat dari kafir Quraisy Makkah, dengan pewrhitungan bahwa di sana banyak keluarga dan family, maka berangkatlah beliau bersama beberapa sahabatnya. Ternyata tidak sebagaimana diduga sebelumnya, mereka malah melempari batu, mengusir nabi agar pulang ke negeri asalnya.
Di saat semacam itu malaikat datang menawarkan jasanya untuk membalas lemparan batu itu dengan mengangkat gunung. Namun, tawaran itu ditolak sebaliknya beliau berdoa : Allahummahdii qaumiy fainnahum laa yalamuun (semoga Allah memberi petunjuk, karena mereka belum tahu).

Sikap ini mencerminkan kesabaran beliau. Andai saja Nabi tidak shabar tentu saja penduduk yang menganiaya Nabi itu hancur total. Akan tetapi dengan kesabarannya beliau berdoa. Doa itu dikabulkan Allah SWT hingga akhirnya mereka menjadi pendukung perjuangannya.
Dengan kesabarannya, Nabi menjadi lemah lembut menghadapi umatnya. Tidak kasar sikapnya dan tidak keras hatinya. Akhirnya mereka luluh dan menjadi Islam karenanya.
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Shabar dalam menerima Musibah
Dunia ini bukan surga. Suka dan duka silih berganti saling mengisi. Bila kemaren mendapatkan kemudahan, mungkin sekarang atau besok bisa bakal menemui kesulitan. Bila sekarang mendapat kenikmatan, mungkin Allah menggantinya dengan musibah. Dan kalau hari ini sehat, bisa juga nanti akan tertimpa sakit.
Musibah adalah peristiwa biasa yang selalu menghampiri manusia. Hanya saja ada yang siap dan ada juga yang kurang siap menerimanya. Ada yang shabar,ada pula yang ingkar.
Ini memang sikap dasar manusia, sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam surah Al Maaarij :
19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.20. apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,21. dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir,
Bagi orang Islam tentu saja sikap yang demikian harus dihilangkan. Bila ditimpa musibah tetap bershabar, sementara bila mendapatkan kebaikan tetap harus bersyukur.mereka sadar bahwa musibah, bencana dan malapetaka itu datangnnya dari Allah yang menciptakan hidup ini. Untuk apa menyesali, berkeluh kesah, apalagi, bukankah nikmat Allah itu jauh lebih banyak kita terima daripada musibah yang menimpa.
Kita sudah diberi sehat bertahun-tahun, tetapi begitu diberi sakit dua tiga minggu saja keluhannya sudah tidak karuan. Malah kadang menggugat Tuhan, menuduhnya macam-macam.
Sikap kaum muslimin mestinya tidak demikian. Mereka memiliki mental yang tangguh, jiwa yang suci dan pikiran yang bersih. Mereka digambarkan Nabi dalam sabdanya : Menagagumkan keadaan orang yang beriman itu apa saja yang menimpanya dianggap baik. Apabila mendapat sesuatu yang menyenangkan ia bersyukur sementara kesenangan itu berakibat baik baginya. Sebaliknya bila ditimpa kesusahan (musibah) ia bershabar. Karenanya, kesusahan itu berakibat baik pula baginya.
Bersabar dalam menghadapi kemaksiyatan
Dunia sekarang yang dominan oleh kekuatan hawa nafsu mendorong manusia untuk berbuat maksiat. Sulit rasanya untuk konsisten dan konsekwen dalam menjalankan agamanya hidup di jaman sekarang. Mereka terjepit oleh sistem jahiliyah yang diciptakan oleh setan-setan yang benrbentuk manusia.
Bila kita hendak memasuki dunia usaha, misalnya. Sulit bagi kita untuk lepas dari suap menyuap manipulasi dan penipuan-penipuan lainnya. Sekian jebakan siap menjaring kita untuk masuk dalam lingkaran kemaksiyatan. Sulit kita menghindari jebakan ini.
Bila kita tidak punya iman yang teguh dan kesabaran yang tangguh niscaya kita akan menjadi korbannya. Kita tersesat dari jalan kebenaran, mengikuti arus kemaksiyatan.

Wahno Sucipto
PAIF KECAMATAN WIYUNG

Share:

Tinggalkan komentar